Cinta Tergantung di Bulan Ramadhan

Sabtu, 10 Agustus 2013


Sebenernya cerita ini gue buat pada saat bulan ramadhan, entah darimana gue dapet inspirasi untuk buat cerpen gak karuan kayak gini. Daripada gue bengong nunggu saat-saat buka puasa, gue berinisiatif untuk ngarang bebas. Dan inilah hasil coret-coretan gue, maaf klo ceritanya ngawur :D gue posting cerpen ini cuma buat di share doang kok, oke nice reading guys :)
check it dotttt.......!!!!! ^_^

Cinta Tergantung di Bulan Ramadhan

Sudah berjalan 4 hari aku mulai menyukai seseorang lagi, semenjak aku di buat patah hati oleh cowok yang sudah aku idolakan sejak 6 tahun yang lalu. –oke lupakan tentang dia, kembali ke pembahasan awal tentang cowok yang sedang aku taksir sekarang ;;)-. Namanya........sebenarnya aku belum tau namanya sih, mulai naksir aja baru 4 hari yang lalu jadi maklumlah kalau belum tau apa-apa tentang dia, yang pastinya cowok itu adalah T E T A N G G A K U.
Oke jadi ceritanya begini, aku tinggal di kompleks yang sama dengan dia, hanya saja rumah kami berbeda blok. Sebenarnya aku sudah lama mengenal dia -eh salah maksudnya melihat dia-, tapi aku nggak pernah segitu merhatiin dia (apa aku selama ini yang terlalu sombong ya atau lebih tepatnya terlalu cuek, sampai-sampai aku nggak terlalu menyadari keberadaan orang-orang di sekitarku).
Yang tadi baru pengantar cerita loh, nah ini baru cerita aslinya. Awal cerita bermula pada saat bulan suci ramadhan tepatnya bulan puasa. Seperti biasa aktivitas rutin yang di lakukan orang-orang pada malam hari di bulan puasa yaitu menunaikan shalat tarwih berjamaah di mesjid, termasuk aku.  Pada tanggal 13 July 2013 tepatnya pada malam ke lima bulan suci ramadhan, seperti biasa setelah buka puasa dan berisitirahat sejenak aku bersama kedua orangtua ku berangkat ke mesjid bersama-sama untuk menjalankan shalat isya dan shalat tarwih berjamaah. Kebetulan jarak mesjid dari rumah kami hanya berkisar ± 25 langkah (itusih hanya perkiraan langkahku yang kecil, nggak tau kalau langkah orang lain yang lebih panjang). Sesampainya di mesjid aku melakukan rutinitasku seperti biasa, nggak ada yang spesial menurutku, terlebih lagi pada saat sang penceramah berceloteh di mimbarnya, aku di buat mengantuk olehnya. Alhasil ketika shalat tarwih berlangsung aku beberapa kali menguap (aku harap sih nggak ada yang ngeliat aku menguap berkali-kali, mana mungkin juga ada yang merhatiin aku pada saat shalat berlangsung, yah kecuali anak-anak kecil yang hanya duduk-duduk sambil bermain-main bersama teman di dekatnya –sesama anak kecil tentunya-). Seperti biasa aku hanya mengambil 8 rakaat saja, sedangkan nyokap tinggal sampai 20 rakaat. Tak terasa 8 rakaat pun selesai, itu pertanda saatnya aku untuk pulang (pulang sendiri tentunya). Eh iya apa aku sudah bilang kalau aku masuk mesjid lewat pintu samping sebelah kiri, otomatis pulangnya aku juga harus lewat pintu itu. Jarang perempuan lewat pintu itu, karena rata-rata laki-laki yang menggunakannya (lah trus kenapa aku lewat pintu itu? Pertanyaan yang bagus, aku sih cuman ngikutin nyokap aja, soalnya dia lewat pintu itu jadi aku juga ikut-ikutan lewat situ) (oke lupakan soal pintu itu, whateverlah mau lewat pintu mana, siapa yang peduli). Tapi tanpa disadari sebenarnya berkat pintu ituloh aku bisa ketemu sama dia dan akhirnya naksir sama dia :D (tapi bukan berarti loh pintu itu yang nyomblangin aku sama dia -_-). Aku berjalan pulang sendirian seperti biasa, dan tanpa aku sadari dia –cowok yang aku taksir- berjalan di sampingku (tapi kami tidak saling menyapa tentunya, karena kami tidak saling mengenal satu sama lain). Aku hanya mencuri-curi pandangan meliriknya sesekali, begitu pula dengan dia, aku bisa merasakannya kalau dia sesekali ngelirik aku juga (ini bukan Ge-eR atau kePeDean loh, tapi ini beneran suer!!!!). Hatiku terasa deg-degan, aku sendiri bisa merasakannya. Setibanya di rumah, aku langsung masuk ke kamar dan melamunkan cowok yang baru saja aku taksir itu sambil senyam-senyum gak jelas. Dan disitulah hari pertama aku mulai merasa tertarik alias jatuh cinta padanya.
Keesokan malamnya aku melihatnya lagi di mesjid, rasa ngantuk yang biasa aku rasakan seketika sirna begitu saja ketika melihatnya. Ketika waktu ceramah pun tiba, mata ku tak bosan-bosannya terus terpaku menatapnya (walaupun aku hanya menatapnya dari belakang). Selang beberapa menit shalat tarwih pun di mulai, pandanganku mulai terlepas darinya. “setelah 8 rakaat selesai, aku harus bergegas keluar dari mesjid, aku harus mengusahakan agar aku bisa berjalan pulang bersamanya lagi” kataku dalam hati sebelum memulai shalat. Tak terasa 8 rakaatpun berlalu, akupun mulai melaksanakan rencanaku tadi. Dan ternyata tak berjalan sesuai rencana, aku telat keluar. Dia sudah berjalan duluan. Tapi nggak papa, setidaknya aku bisa melihatnya dengan berjalan di belakangnya, itu cukup membuatku senang malam itu. Seperti kemarin, sesampainya di rumah aku langsung menuju kamar dan melamunkan cowok itu lagi dan masih sambil senyum-senyum gak jelas (maklum kalau hati berbunga-bunga emang kayak gitu, pengennya senyum-senyum terus). Kalau di pikir-pikir emang sih terlalu cepat bagi aku untuk naksir sama cowok itu. Padahal namanya aja aku nggak tau, boro-boro mau tau namanya, kenal aja nggak. Tapi mungkin ini yang di bilang CPPP “Cinta Pada Pandangan Pertama” (widihh kayak lagu tuh.. =D)

“Inikah namanya cinta oh inikah cinta,
Cinta pada jumpa pertama
Inikah rasanya cinta oh inikah cinta,
Terasa bahagia saat jumpa dengan dirinya…”

Dan pada malam ke tiga aku sudah tak sabar untuk cepat-cepat ke mesjid untuk tarwih,  dengan penuh semangat aku berjalan menuju mesjid dan berharap aku bisa bertemu lagi dengannya. Tapi sesampainya di mesjid, aku tidak melihatnya. Mataku berkeliling mencari-cari sosok cowok idolaku itu, tapi aku tak menemukannya. Rupanya dia tidak datang pada hari itu, jujur aku sedikit kecewa. “Tak apalah aku tak melihatnya hari ini, masih banyak hari esok menanti” kataku dalam hati. Malam itupun aku lewatkan seperti biasa, tak ada yang spesial. Setelah sampai di rumah aku langsung ke kamar lalu baring-baring di atas tempat tidurku, dan akupun kepikiran olehnya lagi. Sebenarnya ada beberapa alasan mengapa aku menyukainya. Pertama, kalau di liat-liat dia termasuk cowok yang nggak bawel, simple, dan nggak banyak gaya seperti kebanyakan cowok lainnya. Yang kedua, dia rajin shalat dan akhlaknya bagus. Yang  ketiga, dia cakep dan dia manis. Yang keempat dan yang nggak kalah pentingnya, tanpa dia melakukan apa-apa, dia hanya muncul di hadapanku saja, tanpa dia sadari itu sudah membuatku berbunga-bunga. Dari keempat point tersebut sudah bisa menjadi alasan terkuatku mengapa aku menyukainya, dan itu pula yang membuatku semakin penasaran kepadanya.
Keesokan malamnya aku nggak berharap lebih bakal ketemu dia lagi, dan ternyata dia benar-benar datang. Aku sangat bahagia, seketika senyum mengembang di bibirku yang mungil ini. Aku sangat menikmati tarwih malam itu karena aku bisa puas melihat-lihat cowok yang aku taksir. Seusai mengambil 8 rakaat, akupun bergegas pulang. Dan ketika aku muncul dari balik horden, (ada horden di gantung di tengah-tengah mesjid sebagai pemisah saf perempuan dan laki-laki) secara kebetulan cowok yang aku taksir itupun tepat berada di sampingku. Agak lucu sih soalnya dia sedikit terkejut melihatku tiba-tiba muncul dari balik horden, dan aku juga sedikit terkejut melihat dia tiba-tiba ada di hadapanku dan menatapku sejenak. Aku hanya tunduk ketika dia menatapku, karena aku paling nggak bisa liat mata seseorang yang sedang menatapku. Kami keluar dari pintu secara bersamaan, tapi aku segera memakai sendalku dan berjalan duluan karena salting –salah tingkah-. Aku pikir aku sudah berjalan jauh meninggalkannya, tapi ternyata dia tepat berjalan di samping belakangku, dan mencoba jalan sejajar denganku. Dan akhirnya kamipun berjalan bersama seperti waktu pertama kali aku bertemu dengannya. Sungguh beberapa kebetulan yang sangat menyenangkan bagiku tentunya. Walaupun ini sedikit lebay sih kedengarannya, tapi jujur setiap aku berdoa aku selalu berkata “Ya Allah kalau memang dia cowok yang engkau kirimkan untukku, tolong beri aku kelancaran dan kemudahan agar dapat mengenal dia lebih Ya Allah, dan tolong dekatkan aku dengannya, AMIN....” aku selalu berharap semoga Allah mendengar dan mengabulkan doaku (hahahaa, sok dramatis banget yah :D).
Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, sejak hari itu wajahnya nggak pernah terlihat lagi, mungkin dia udah mudik duluan, entahlah ._.! dan akhirnya akupun nggak pernah bertemu dengannya lagi, bahkan sampai lebaran tiba. Entah kapan bisa bertemu dengannya lagi. Mungkin seiring dengan berjalannya waktu sosoknya akan terlupakan dari memori ingatanku, karena aku akan di sibukkan kembali dengan aktivitas2 yang biasa aku jalanin ketika kembali masuk sekolah *I hope*....

0 komentar:

Posting Komentar