Sebenernya cerita ini gue buat pada saat bulan ramadhan, entah darimana gue dapet inspirasi untuk buat cerpen gak karuan kayak gini. Daripada gue bengong nunggu saat-saat buka puasa, gue berinisiatif untuk ngarang bebas. Dan inilah hasil coret-coretan gue, maaf klo ceritanya ngawur :D gue posting cerpen ini cuma buat di share doang kok, oke nice reading guys :)
check it dotttt.......!!!!! ^_^
Cinta Tergantung di Bulan Ramadhan
Sudah
berjalan 4 hari aku mulai menyukai seseorang lagi, semenjak aku di buat patah
hati oleh cowok yang sudah aku idolakan sejak 6 tahun yang lalu. –oke lupakan
tentang dia, kembali ke pembahasan awal tentang cowok yang sedang aku taksir sekarang
;;)-. Namanya........sebenarnya aku belum tau namanya sih, mulai naksir aja
baru 4 hari yang lalu jadi maklumlah kalau belum tau apa-apa tentang dia, yang
pastinya cowok itu adalah T E T A N G G A K U.
Oke
jadi ceritanya begini, aku tinggal di kompleks yang sama dengan dia, hanya saja
rumah kami berbeda blok. Sebenarnya aku sudah lama mengenal dia -eh salah
maksudnya melihat dia-, tapi aku nggak pernah segitu merhatiin dia (apa aku
selama ini yang terlalu sombong ya atau lebih tepatnya terlalu cuek,
sampai-sampai aku nggak terlalu menyadari keberadaan orang-orang di sekitarku).
Yang
tadi baru pengantar cerita loh, nah ini baru cerita aslinya. Awal cerita
bermula pada saat bulan suci ramadhan tepatnya bulan puasa. Seperti biasa
aktivitas rutin yang di lakukan orang-orang pada malam hari di bulan puasa
yaitu menunaikan shalat tarwih berjamaah di mesjid, termasuk aku. Pada tanggal 13 July 2013 tepatnya pada malam
ke lima bulan suci ramadhan, seperti biasa setelah buka puasa dan berisitirahat
sejenak aku bersama kedua orangtua ku berangkat ke mesjid bersama-sama untuk
menjalankan shalat isya dan shalat tarwih berjamaah. Kebetulan jarak mesjid
dari rumah kami hanya berkisar ±
25 langkah (itusih hanya perkiraan langkahku yang kecil, nggak tau kalau
langkah orang lain yang lebih panjang). Sesampainya di mesjid aku melakukan
rutinitasku seperti biasa, nggak ada yang spesial menurutku, terlebih lagi pada
saat sang penceramah berceloteh di mimbarnya, aku di buat mengantuk olehnya.
Alhasil ketika shalat tarwih berlangsung aku beberapa kali menguap (aku harap
sih nggak ada yang ngeliat aku menguap berkali-kali, mana mungkin juga ada yang
merhatiin aku pada saat shalat berlangsung, yah kecuali anak-anak kecil yang
hanya duduk-duduk sambil bermain-main bersama teman di dekatnya –sesama anak
kecil tentunya-). Seperti biasa aku hanya mengambil 8 rakaat saja, sedangkan nyokap
tinggal sampai 20 rakaat. Tak terasa 8 rakaat pun selesai, itu pertanda saatnya
aku untuk pulang (pulang sendiri tentunya). Eh iya apa aku sudah bilang kalau
aku masuk mesjid lewat pintu samping sebelah kiri, otomatis pulangnya aku juga
harus lewat pintu itu. Jarang perempuan lewat pintu itu, karena rata-rata
laki-laki yang menggunakannya (lah trus kenapa aku lewat pintu itu? Pertanyaan
yang bagus, aku sih cuman ngikutin nyokap aja, soalnya dia lewat pintu itu jadi
aku juga ikut-ikutan lewat situ) (oke lupakan soal pintu itu, whateverlah mau
lewat pintu mana, siapa yang peduli). Tapi tanpa disadari sebenarnya berkat
pintu ituloh aku bisa ketemu sama dia dan akhirnya naksir sama dia :D (tapi
bukan berarti loh pintu itu yang nyomblangin aku sama dia -_-). Aku berjalan
pulang sendirian seperti biasa, dan tanpa aku sadari dia –cowok yang aku
taksir- berjalan di sampingku (tapi kami tidak saling menyapa tentunya, karena
kami tidak saling mengenal satu sama lain). Aku hanya mencuri-curi pandangan
meliriknya sesekali, begitu pula dengan dia, aku bisa merasakannya kalau dia
sesekali ngelirik aku juga (ini bukan Ge-eR atau kePeDean loh, tapi ini beneran
suer!!!!). Hatiku terasa deg-degan, aku sendiri bisa merasakannya. Setibanya di
rumah, aku langsung masuk ke kamar dan melamunkan cowok yang baru saja aku
taksir itu sambil senyam-senyum gak jelas. Dan disitulah hari pertama aku mulai
merasa tertarik alias jatuh cinta padanya.
Keesokan
malamnya aku melihatnya lagi di mesjid, rasa ngantuk yang biasa aku rasakan
seketika sirna begitu saja ketika melihatnya. Ketika waktu ceramah pun tiba,
mata ku tak bosan-bosannya terus terpaku menatapnya (walaupun aku hanya
menatapnya dari belakang). Selang beberapa menit shalat tarwih pun di mulai,
pandanganku mulai terlepas darinya. “setelah 8 rakaat selesai, aku harus
bergegas keluar dari mesjid, aku harus mengusahakan agar aku bisa berjalan
pulang bersamanya lagi” kataku dalam hati sebelum memulai shalat. Tak terasa 8
rakaatpun berlalu, akupun mulai melaksanakan rencanaku tadi. Dan ternyata tak
berjalan sesuai rencana, aku telat keluar. Dia sudah berjalan duluan. Tapi nggak
papa, setidaknya aku bisa melihatnya dengan berjalan di belakangnya, itu cukup
membuatku senang malam itu. Seperti kemarin, sesampainya di rumah aku langsung
menuju kamar dan melamunkan cowok itu lagi dan masih sambil senyum-senyum gak
jelas (maklum kalau hati berbunga-bunga emang kayak gitu, pengennya
senyum-senyum terus). Kalau di pikir-pikir emang sih terlalu cepat bagi aku
untuk naksir sama cowok itu. Padahal namanya aja aku nggak tau, boro-boro mau
tau namanya, kenal aja nggak. Tapi mungkin ini yang di bilang CPPP “Cinta Pada Pandangan Pertama” (widihh
kayak lagu tuh.. =D)
“Inikah namanya cinta oh inikah cinta,
Cinta pada jumpa pertama
Inikah rasanya cinta oh inikah cinta,
Terasa bahagia saat jumpa dengan
dirinya…”
Dan
pada malam ke tiga aku sudah tak sabar untuk cepat-cepat ke mesjid untuk
tarwih, dengan penuh semangat aku
berjalan menuju mesjid dan berharap aku bisa bertemu lagi dengannya. Tapi
sesampainya di mesjid, aku tidak melihatnya. Mataku berkeliling mencari-cari
sosok cowok idolaku itu, tapi aku tak menemukannya. Rupanya dia tidak datang
pada hari itu, jujur aku sedikit kecewa. “Tak apalah aku tak melihatnya hari
ini, masih banyak hari esok menanti” kataku dalam hati. Malam itupun aku
lewatkan seperti biasa, tak ada yang spesial. Setelah sampai di rumah aku
langsung ke kamar lalu baring-baring di atas tempat tidurku, dan akupun
kepikiran olehnya lagi. Sebenarnya ada beberapa alasan mengapa aku menyukainya.
Pertama, kalau di liat-liat dia termasuk cowok yang nggak bawel, simple, dan
nggak banyak gaya seperti kebanyakan cowok lainnya. Yang kedua, dia rajin
shalat dan akhlaknya bagus. Yang ketiga,
dia cakep dan dia manis. Yang keempat dan yang nggak kalah pentingnya, tanpa
dia melakukan apa-apa, dia hanya muncul di hadapanku saja, tanpa dia sadari itu
sudah membuatku berbunga-bunga. Dari keempat point tersebut sudah bisa menjadi
alasan terkuatku mengapa aku menyukainya, dan itu pula yang membuatku semakin
penasaran kepadanya.
Keesokan
malamnya aku nggak berharap lebih bakal ketemu dia lagi, dan ternyata dia
benar-benar datang. Aku sangat bahagia, seketika senyum mengembang di bibirku
yang mungil ini. Aku sangat menikmati tarwih malam itu karena aku bisa puas
melihat-lihat cowok yang aku taksir. Seusai mengambil 8 rakaat, akupun bergegas
pulang. Dan ketika aku muncul dari balik horden, (ada horden di gantung di
tengah-tengah mesjid sebagai pemisah saf perempuan dan laki-laki) secara
kebetulan cowok yang aku taksir itupun tepat berada di sampingku. Agak lucu sih
soalnya dia sedikit terkejut melihatku tiba-tiba muncul dari balik horden, dan
aku juga sedikit terkejut melihat dia tiba-tiba ada di hadapanku dan menatapku
sejenak. Aku hanya tunduk ketika dia menatapku, karena aku paling nggak bisa
liat mata seseorang yang sedang menatapku. Kami keluar dari pintu secara
bersamaan, tapi aku segera memakai sendalku dan berjalan duluan karena salting
–salah tingkah-. Aku pikir aku sudah berjalan jauh meninggalkannya, tapi
ternyata dia tepat berjalan di samping belakangku, dan mencoba jalan sejajar
denganku. Dan akhirnya kamipun berjalan bersama seperti waktu pertama kali aku
bertemu dengannya. Sungguh beberapa kebetulan yang sangat menyenangkan bagiku
tentunya. Walaupun ini sedikit lebay sih kedengarannya, tapi jujur setiap aku
berdoa aku selalu berkata “Ya Allah kalau memang dia cowok yang engkau kirimkan
untukku, tolong beri aku kelancaran dan kemudahan agar dapat mengenal dia lebih
Ya Allah, dan tolong dekatkan aku dengannya, AMIN....” aku selalu berharap
semoga Allah mendengar dan mengabulkan doaku (hahahaa, sok dramatis banget yah
:D).
Tapi
ternyata Tuhan berkehendak lain, sejak hari itu wajahnya nggak pernah terlihat
lagi, mungkin dia udah mudik duluan, entahlah ._.! dan akhirnya akupun nggak
pernah bertemu dengannya lagi, bahkan sampai lebaran tiba. Entah kapan bisa
bertemu dengannya lagi. Mungkin seiring dengan berjalannya waktu sosoknya akan
terlupakan dari memori ingatanku, karena aku akan di sibukkan kembali dengan
aktivitas2 yang biasa aku jalanin ketika kembali masuk sekolah *I hope*....

0 komentar:
Posting Komentar