Ketika Cinta Harus Segitiga

Sabtu, 10 Agustus 2013


Liburan akhir semester telah berakhir. Kembali bersekolah adalah hal yang kunanti-nantikan. Tak sabar rasanya ingin berkumpul dan menceritakan pengalaman liburan kepada teman-temanku. Aku berangkat sekolah menggunakan seragam putih biruku, menggandeng tas baru, memakai sepatu baru, semuanya itu diberikan ayahku sebagai hadiah kenaikan kelas.
Ketika aku memasuki kelas, aku mendengar ada gosip murid baru. Tapi dia belum kelihatan. Seseorang mengagetkanku ketika aku sedang mencari buku tugasku.
“Apakah aku boleh duduk di sampingmu?” Tanya sebuah suara.
“Tentu, duduklah. Aku Cecil. Siapakah namamu?” ujarku.
“Hai, Cecil. Aku Desy. Senang berkenalan denganmu.”
Aku dan Desy bercerita tentang Sekolahnya kami dulu. Ya, Desy memang murid baru yang menyenangkan. Dia membuatku tertawa terus. Tapi, dia serius saat Bu Guru menjelaskan. Persahabatan aku dan Desy seperti amplop dengan perangko walaupu kami baru kenal. Di mana ada aku, di situ ada Desy. Aku berteman bukan hanya dengan Desy. Ada Yuni, Clara, Laura, Windy, Hilda, Rina, dan Carol. Mereka juga teman yang asyik.
“Cecil, Aldi merhatikan kamu terus tuh…” bisik Desy saat mengerjakan soal Matematika.
“Ini gimana sih cara ngerjainnya?” tanyaku.
“Iih, Cecil.. Serius banget ngerjakan soal. Sampai-sampai kata-kata ku tadi dilupakan.” Balasnya.
“Aku gak peduli sama Aldi yang kamu bilang.” Jawabku lagi.
“Iya, iya, aku tahu kamu gak suka kalo ngomongin cowok. Sini, soal yang tadi itu gini…” Desy mulai menjelaskannya padaku.
Tanpa sepengetahuan Desy aku melihat Aldi. Belum sempat aku memperhatikannya, Aldi melihatku. Aku pura-pura sedang memperhatikan tulisan di papan tulis. Ku lihat Aldi pun langsung mengalihkan pandangannya dariku.
Aku tergesa-gesa menaiki angkutan umum. Aku melihat jam di tanganku, pukul 06.55. Aku hanya berdoa supaya aku bisa sampai di sekolah pukul 07.15. Untunglah, aku sampai di saat bel baris upacara berbunyi. Aku meletakkan tas dan lari berbaris.
“Cecil, tumben kamu lama datang?” tanya Aldi padaku.
“Iya, tadi aku lama bangun. Hehehe.” ujarku malu.
“Aku sering gitu.” Ujar Aldi. Kami pun tertawa.
“HUSH, ribut amat sih kalian berdua!” bentak Laura.
Aku tak banyak bicara lagi dan langsung diam. Aku bepikir kenapa Laura sekasar itu ngomonnya sih. Kan bisa baik-baik di bilang. Tapi pertanyaan itu kusimpan saja.
“Cecil, tadi ada apa antara kau, Laura dan Aldi?” Tanya Desy.
“Tadi Laura marahin aku dan Aldi karena kami berdua ketawa-ketawa. Memang sih, kami salah. Tapi, Laura galak banget ya?” ucapku pelan karena Laura melewati bangku kami.
“Mungkin Laura cemburu, kamu bisa lebih dekat sama Aldi. Aku baru dengar gosip, Laura suka sama Aldi.” Desy memandangku serius.
“Oh, begitu..” Jawabku polos.
“Kamu tahu apa yang salah?” Tanya Desy padaku.
“Enggak.” Kataku singkat.
“Cecil, kamu itu bodoh ya. Laura suka sama Aldi. Tapi Aldi suka sama kamu.” Kata Desy mengejutkanku.
“Kamu jangan ngaco deh, Des. Masa Aldi bisa suka sama aku?” tanyaku bingung.
“Iya, Cecil. Hampir sekelas ini tahu. Kamu dikasih sinyal sama aku waktu itu gak connect.” Desy mengomel.
“Aku gak percaya, Des.” Kataku tetap.
“Nanti, waktu yang akan membuktikan.” Kata Desy serius.
Clara temanku mencatat di papan tulis, tapi aku tidak mencatatnya. Aku sekilas melihat Aldi. Dan kejadian itu terulang lagi. Di saat aku hendak memperhatikan detailnya Aldi, dia juga memandangiku. Aku tersenyum malu, dia melihatku tertawa. Aku rasa tidak seperti biasanya aku rasa seperti ini. Aku bertanya, apakah benar Aldi menyukaiku? Tapi aku tidak akan percaya sebelum dia yang mengucapkannya.
TATA BOGA?! Aku benci pelajaran itu, karena aku tidak tahu memasak. Kali ini, tugas dari bu guru harus buat KUE. KUE yang di hias, berwarna, enak. Kue itu sebagai nilai praktek.
“Ibu akan panggil nama kalian sesuai kelompoknya. Kelompok 1: Anggi, Yuni, Clara, Laura, Dion, Rano dan Hasan. Berkumpul kelompok 1.” Bu guru berpikir sejenak.
“Semoga kita satu kelompok ya, Desy.” Bisikku.
“Kelompok 2 : Aldi, Carol, Windy, Johan, Cecil, dan Desy. Maju yang ibu panggil” lanjut ibu guru.
“Kelompok 3: Nata, Gea, Kira, Roni, Hilda, dan Fani. Maju ke depan” lanjut ibu guru.
Begitu selesai ibu guru membacakan nama-nama kelompok, kami kembali duduk ke tempat sesuai kelompoknya. Ibu guru menerangkan bahan-bahan kue dan cara membuatnya. Ya ampun, kenapa aku dan Aldi satu kelompok? Tanyaku dalam hati. Ini kebetulan buat aku cengengesan sendiri. Ku lihat ada senyum Aldi. Ku lihat Desy cengengesan juga melihatku. Perasaanku saat itu tiba-tiba kacau. Tidak kudengarkan petunjuk bahan-bahan yang harus di beli. Aku hanya melihat Aldi yang tersenyum.
Pulang sekolah, kami kelompok 3 berdiskusi. Kami sepakat mengerjakannya di rumahku, hari Jumat sepulang sekolah langsung. Besok, aku, Desy, Carol dan Windy akan membeli bahan-bahannya terlebih dahulu.
“Aldi, mana uang kue kelompok?” aku menghampirinya.
“Ini, jangan korupsi ya.. Wkwkwk.” Aldi tertawa.
“Gak lah, aku gak sejahat itu. Besok pulang sekolah langsung ke rumahku ya.” aku berjalan ke arah Johan.
“Johan, uang kelompok..” kataku
“Ini, Cecil. Tapi besok 3000 lagi ya, ongkosku enggak ada lagi.” Pintanya memelas.
“Ya udah, engga apa-apa. Ingat, besok.” aku meninggalkan mereka berdua.
“Desy, semua uang sudah terkumpul. Besok Johan bayar 3000 lagi.” aku menyodorkan uang membeli bahan kue.
“Oke, kita beli di Toko Acuan biar lebih murah ya.”
“Setuju, Des.”
Bel berbunyi… Aku, Desy, Carol dan Windy pergi berjalan kaki dari sekolah menuju Toko Acuan. Jarak yang lumayan jauh kami tempuh dengan berjalan kaki, menerjang panasnya terik mentari, tapi semangat kami tak pernah berhenti. #Wah, wah, sudah berpuisi saya…
Bahan-bahan yang di beli sama sekali tidak ada yang ku tahu. Bagaimana ini? Pastinya mamaku bakalan jadi malaikat penolong kami nanti. Mamaku pandai membuat kue, tapi aku tidak. Beda jauh ya? Tapi memang beginilah aku dengan segala kekuranganku.
“Kita sampai di sini ya. Makasih teman-teman. Sampai jumpa besok!” ujarku setelah kami
hendak pulang ke rumah masing-masing.
“Oke, Cecil. Hati-hati ya.” sahut mereka bertiga.
Sesampainya di rumah, tidak ada seorang pun di rumah. Ku cari kunci di bawah pot bunga. Ada, untunglah. Aku masuk ke rumah dan menguncinya lagi. Aku mencuci tangan dan kaki, lalu menuju dapur. Ada sayur tumis kangkung, tempe goreng, ikan asin dan sambal tersi. PERFECT LUNCH.. Makasih mama, walaupun mama pergi tapi makanan enak sudah standby.
Aku pergi ke kamar dan memasang lagu, aku tidur-tiduran di kasur. Tiba-tiba terbesit sosok Aldi yang sedang tersenyum padaku. Aku tersenyum ketika teringat tentang Aldi. Kenapa begini ya? Mungkin harus ku akui, aku suka Aldi. Lagu My First Love yang dinyanyikan Nikka Costa adalah lagu yang tepat untuk perasaanku saat ini. Aku sangat menikmati alunan lagu tersebut sesuai dengan alunan hatiku pada Aldi. Ketika aku keasyikan memikirkan Aldi, Mama mengetuk pintu rumah. Aku berlari membukakan pintu. Ternyata Mama baru saja pulang dari pesta pernikahan tetangga kami.
“Mama, besok teman-temanku datang. Mama bantuin buat kue ya?” pintaku pada mama
“Siapa saja yang akan datang, Cyl?” sahutnya.
“Aldi, Desy, Carol, Windy, dan Johan.” jawabku.
“Okelah kalau begitu.” Jawab mama singkat.
Jumat, hari yang membosankan. Aku suntuk berada di kelas. Sudah 4 mata pelajaran tidak ada Guru yang datang satupun. Aku memasang headset di telinga dan mendengarkan irama musik yang sesuai dengan irama detak jantungku. Tanpa sengaja pandanganku tertuju pada Aldi. Aku melihat Laura sedang tertawa bersama Aldi dan teman-temannya. Rasanya aku ingin berada di antara mereka, tapi sudahlah. Aku tak suka melihat gaya Laura yang memarah-marahin aku dan Aldi waktu Senin lalu. Aku mengalihkan pandanganku dan kembali mendengarkan lagu.
“Cecil! Cecil!”
Apa sih yang mereka inginkan dariku? Aku sedang asyik kok di panggil melulu. Dengan malas kulepaskan headset,
“Apa sih?” kataku
“Cecil, aku hanya ingin bertanya, kita jadi buat kue hari ini kan?” ternyata Aldi yang bertanya padaku.
Semua mata temanku memandang kami. Termasuk tatapan Laura yang sinis. Aku sempat terdiam malu. Aldi di ujung kiri bertanya dengan kuat hanya untuk menanyakan hal itu padaku.
“Em, Iya jadi lah, Di.” jawabku.
“Tuh kan, kami jadi kerja kelompok, Laura. Aku gak bisa nemenin kamu ke toko elektronik itu.” Aldi menerangkan kepada Laura.
“Ya sudah, aku pergi dengan orang lain saja.” Laura pergi meninggalkan bangku Aldi dengan cepat.
Aku tahu, pasti Laura sangat menginginkan Aldi. Dia terlihat begitu kecewa begitu tahu Aldi akan kerja kelompok di rumahku. Satu hal yang tak kumengerti dari Aldi, kenapa dia janji nemenin Laura. Seolah-olah dia memberikan harapan pada Laura, padahal dia yang ingkar janji. Aku semakin bingung.
Aku dan anggota kelompokku berkumpul di depan kelas. Kami berjalan menuju gerbang sekolah. Desy menarik lenganku,
“Cecil, kenapa diam-diam saja?” kata Desy padaku.
“Aku gak apa-apa.” Jawabku singkat.
“Yakin gak papa? Nanti kamu bohong.” Aldi masuk ke pembicaraan kami. “Kamu gak sakit, kan?” sambungnya lagi.
Kali ini Aldi memperhatikan wajahku dengan seksama.
“Kan sudah ku bilang, aku gak apa-apa. Repot amet ngurusin aku deh.” aku agak kesal menjawabnya.
“Ya, kan, kalo kamu sakit kami juga yang repot, gimana kami kerja kelompok kalo kamu sakit.” Jawab Aldi.
“Iya, makasih lah sudah perhatian. Ini angkot menuju rumahku. Ayo kita naik.” Jawabku untuk mengakhiri percakapan konyol ini.
Aku dan anggota-anggota lainnya masuk ke dalam angkutan umum. Angkutan umum ke rumahku memang penuh penumpang kalau anak sekolah pulang. Aku tersadar kenapa aku begitu kasar kepada teman-teman satu kelompokku. Mungkin gara-gara Laura tadi ya. Aku harus bersikap manis kepada teman-temanku, kalau tidak mama pasti marah padaku. Oke, aku akan berubah.
“Ayo masuk, masuk Nak, anggap saja rumah sendiri” sapa Mamaku dengan lembut kepada temanku.
“Iya, tante.”jawab mereka kompak.
“Minum dulu ya, biar tante buat minumnya. Ini ada keripik.” kata Mama sambil menyuguhkan keripik.
“Aduh, maaf nge-repotin ya, Tante.” Kata Andi dengan sopan.
“Ah, enggak kok. Cyl, bantuin angkat minumnya di dapur.” Mama menyuruhku.
“Oke, mama.” Aku mengikuti mama ke dapur.
“Cyl, siapa nama anak lelaki itu? Dia begitu sopan dan ramah. Orangnya lumayan lagi.” Mama menanyakanku terus.
“Oh, itu Aldi, Ma. Aku suka dia, Ma. Tapi Mama diam aja ya.” Bisikku pada Mama.
“Hahaha, anak Mama ini sekarang sudah suka sama seseorang ya. Iya, Mama diam-diam aja.” kata Mamaku sambil tertawa.
Aku membawa 6 gelas sirup markisa dingin untuk mereka. Dan aku ikut menikmatinya bersama teman-temanku. Kami bercengkrama sejenak sebelum memulai buat kue.
“Cecil, mama kamu baik banget ya.” Seru Carol.
“Iya dong.” jawabku.
“Anaknya juga baik, cantik lagi.” goda Aldi.
“Cie, cie. Aldi sempat-sempatnya menggombalin Cecil ya.” Seru Johan.
“HAHAHA” tawa kami serentak.
Aku tertawa dan senang di dalam hatiku. Aldi membuatku GR. Maksud Aldi apa sih?
“Cecil, kita buat sekarang kuenya yok?” pinta Windy yang tak sabar ingin belajar membuat kue.
“Ayo. Kita ke dapur.” Ajakku pada mereka.
Aku, Windy, Carol, Desy dan Mamaku menimbang-nimbang bahan yang dibutuhkan. Aldi dan Johan hanya memperhatikan saja. Untuk kue yang pertama, adonannya sudah jadi. Kali ini Johan, Aldi yang diajarin mamaku membuat adonan kue yang kedua. Kami banyak tertawa melihat Aldi dan Johan yang tidak tahu memecahkan telur. Akhirnya, kami memasukkan dua adonan itu ke dua loyang yang berbeda. Kami memasukkannya ke dalam oven. Kami menunggu ± 40 menit. Kuenya sudah matang.
Yes! Semuanya berseru kegirangan. Kuenya sesuai dengan yang diharapkan. Sekarang, kami akan menghiasnya. Whipped cream berwarna putih dioleskan merata. Dengan bantuan plastik segitiga dan corong imut, kami membuat bentuk yang indah di setiap sisinya. Buah jeruk, kiwi, dan mangga di susun di atasnya. Dengan sentuhan buah cherri di setiap sudut kuenya, membuat kue itu terlihat indah. Kami juga menghias kue kedua sama seperti kue yang pertama. Kue kedua ini untuk kami nikmati bersama. Kami kagum dengan kue buatan kami. Untung saja ada mamaku. Semuanya menucapkan terimakasih pada mamaku.
Aku dan teman-teman sangat senang hari ini. Mamaku juga senang melihat kami tertawa bersama. Karena hari sudah sore, teman-temanku berpamitan padaku dan mamaku. Kami tidak sabar membawa kue itu besok.
“Wah, kuenya cantik sekali.” Puji semua teman yang melihat hasil kelompok kami.
“Makasih.” Jawab kelompokku sambil tersenyum.”
“Coba bawa kuenya ke depan” perintah guru kami.
Semua kelompok maju membawa kuenya masing-masing.
“Wow, kue yang sangat indah, Cecil. Ini hasil kelompok kalian?” Tanya ibu guru dengan
penuh semangat.
“Iya, bu. Lumayan susah membuatnya, bu.” Jawab Aldi
“Iya, ibu penasaran dengan rasanya. Kue kalian ini khusus untuk ibu ya? Pokoknya ibu bawa
pulang ke rumah.” Kata ibu guru.
“Kami mau coba juga, bu.” kata teman-temanku dari kelompok lain.
“Itu kan urusan kalian. Kalian minta ajarin sama kelompok 3.”
“Yaaahhh, ibu…” jawab teman-teman kecewa.
Kami kelompok 3 hanya tertawa. Yang penting kami sudah tahu rasa kue itu. Kasihan sekali teman-temanku yang belum mencicipinya.
Aku hampir lupa hari kelahiranku sendiri. 8 Agustus, 14 tahun yang lalu, aku hanya seorang bayi yang tahunya hanya menangis saja. Sekarang, aku sudah menginjak masa remaja. Hari ini, aku berulang tahun ke-14. Mama dan ayahku memberikanku kejutan di pagi hari. Mereka memberi kue ulang tahun sebelum aku pergi ke sekolah. Aku terlambat ke sekolah, untung saja guru matematika belum masuk ke kelas. Aku duduk di samping Desy.
“Happy Birthday, Cecil.” Katanya sambil menyalamiku.
Banyak temanku yang ikut menyalam, hampir semuanya. Aku senang sekali, karena semua teman-temanku perhatian kepadaku. Ku lihat Aldi, dia belum ada menyalamiku, karena ibu guru sudah datang. Kami pun memulai pelajaran Matematika kami. Kurasakan hpku bergetar-getar di kantong rokku. Kubuka pesan itu,
“Cecil, pulang sekolah nanti kamu jangan pulang dulu ya.
Aku belum mengucapkan selamat kepadamu.”
ALDI
Aku hanya membacanya sekilas dan membalas “Oke”.
Waktu terasa begitu cepat berputar hari ini. Bel baru saja berbunyi. Aku masih membereskan dan memasukkan buku-buku ke dalam tasku. Aldi datang ke bangkuku.
“Cecil, Happy Birthday ya. Semoga makin baik, makin pintar, dan makin cantik ya.” Kata Aldi padaku.
“Oh, ada Aldi. Makasih ya, Di.” Jawabku.
“Aku punya sedikit uang, jadi aku cuma bisa ngasih ini ya, Cyl.” Katanya terbata-bata.
Aldi menyodorkan bungkusan kado kecil. Dan dia menyalamku sambil menatapku.
“Maaf, cyl. Cuma itu dariku.” Kata Aldi lagi.
Rasanya aku tak bisa bergerak. Aku membalas tatapannya. Tatapannya yang tulus. Tangannya masih menyalam tanganku terasa begitu hangat. Entah berapa lama kami bersalaman, aku tersadar. Ya ampun! Ternyata teman-temanku melihat kami dari tadi. Kami berdua seperti sedang bermain sinetron.
“Oh, ehm.. Makasih banyak ya, Aldi. Gak apa-apa kok, Cuma ini aja aku sudah senang.” Kataku sambil melepaskan salaman itu.
“Cyl, sebenarnya aku suka kamu.” Kata Aldi. “Kamu mau gak jadi pacar aku?” sambungnya lagi.
Aku menatapnya tak percaya. Seakan ini sebuah mimpi yang sangat indah. Tapi, saat itu aku tak bisa berkata apa-apa.
“Aku perlu waktu 3 hari untuk menjawabnya, Di.” Jawabku.
“Oke, beritahu aku hari Rabu.” Jawabnya sambil tersenyum manis.
Semua temanku bersorak menyuruhku menerimanya. Seketika kulihat Laura berlari dari samping kelas sambil meneteskan air mata. Aku sedih melihat Laura yang sangat menginginkan Aldi, padahal Aldi dan aku mempunyai rasa yang sama. Aku bingung apakah aku terima Aldi atau tidak?
“Cecil, aku pulang duluan ya. Jangan lupa hari Rabu.” Kata Aldi
“Tunggu, Di. Aku melihat Laura menangis. Aku yakin dia sangat menginginkanmu.” Kataku polos.
“Aku menganggap Laura hanya teman, biarpun dia sangat menginginkanku. Sekarang, perasaanku hanya untukmu, Cyl.” Dia meyakinkanku.
“Kenapa waktu itu kau seakan-akan memberikannya harapan dengan berjanji menemaninya ke toko elektronik? Kan kasihan dia sekarang, Di.” kataku lagi.
“Itu hanya balasanku kepadanya yang telah meminjamkanku pulpen. Aku gak ada perasaan apa-apa sama Laura. Yang kuinginkan hanya kamu, Cecil.” Ucapnya serius.
“Aku tahu itu, Di. Tunggu saja jawabanku hari Rabu.” Jawabku.
“Oke, Cecil, You’re the one. Bye.”
Aku masih berada di kelas bersama Desy. Desy tahu aku belum pandai dalam mengambil keputusan seperti ini.
“Jika ini memang cinta, berjuanglah Cecil. Jangan karena perasaan Laura, kau mengorbankan perasanmu sendiri. Aldi kan sudah bilang, Aldi menginginkanmu, bukan menginginkan Laura.” Desy memberikan nasihatnya.
“Iya, Desy. Aku cuma merasa gak enak aja sama Laura kalau aku dan Aldi pacaran.” Kataku.
“Tenanglah, Laura pasti mengalah demi kebahagiaan Aldi.” Katanya padaku.
“Mudah-mudahan.” Kataku.
Malam ini aku tidak bisa tidur membayangkan pengakuan Aldi. Aku senang ternyata dia benar-benar menyukaiku. Aku hanya berharap hari Rabu cepat tiba.
Sepulang sekolah, aku dan Aldi piket membersihkan kelas. Aldi tersenyum melihatku menyapu. Aku pun tersenyum malu karena di lihat oleh Aldi.
“Cecil, bisa aku bicara kepadamu? Bentar ya, Di. Aku pinjam Cecil dulu.” Kata Laura.
Laura tiba-tiba datang. Dia menarikku keluar kelas dan mengajakku makan di kantin.
“Ada apa, Laura?” tanyaku penasaran.
“Aku tahu sekarang, Aldi menginginkanmu. Sebenarnya aku sedih, Cyl. Aku juga pernah mengharapkannya.” ucap Laura pelan.
“Maafkan aku, Laura. Aku gak tahu mau gimana lagi.” Jawabku.
“Iya, aku tahu. Aku tak bisa menyalahkanmu.” Katanya hampir menangis.
“Laura, jangan menangis please.” Pintaku pada Laura.
“Aku sangat menyayanginya, Cyl. Semoga kau bisa menyayangi Aldi seperti aku menyayanginya. Jaga dia ya.”
“Kamu serius ngijinin aku dan Aldi pacaran?” tanyaku.
“Iya, aku serius.” Jawabnya.
“Thanks, Laura. Semoga kamu dapet pacar yang lebih baik dari Aldi ya.” Kataku.
“Amin. Aku sadar, cowok masih banyak kok.” Laura tersenyum padaku. “Ayo, kita kembali ke kelas dan terima Aldi.” Sambungnya lagi.
Aku dan Laura kembali ke kelas. Kulihat Aldi menggantikan tugasku menyapu. Masih banyak teman-temanku yang menunggu di depan kelas. Laura menyuruhku mendekati Aldi. Aku pun mendekati Aldi. Ku ambil sapu yang ada di tangannya.
“Aldi, aku janji ngasih jawaban besok. Tapi, aku mau ingkari janjiku. Aku jawab pertanyaanmu sekarang ya?” kataku sambil melihat tatapannya.
Semua teman yang masih ada di depan kelas memperhatikan kami. Kudengar bisikan riuh dari mereka. Tapi saat itu aku tak peduli.
“Ya, Cyl. Jawablah pertanyaanku.” Katanya penasaran.
“Aldi, aku mau jadi pacarmu. Sebenarnya aku juga menyukaimu.” Kataku dengan lembut.
“Makasih, Cyl. Aku mencintaimu. Aku akan berusaha selalu menyayangimu.” Kata Aldi.
Aldi menggenggam tanganku. Ku lihat pancaran sinar kebahagiaannya. Laura tersenyum melihat kami berdua.
“Selamat ya, Aldi. Selamat ya, Cecil. Longlast ya.” Kata Laura kepada kami.
“Jaga dia ya, Cyl.” Bisik Laura padaku.
“Oke, Laura.. Makasih banyak.” Jawabku padanya.
Semua temanku bersorak bahagia, seakan mereka merasakan kebahagiaanku sekarang. Kini, aku dan Aldi sudah resmi pacaran. Aldi begitu perhatian, dia baik, dia juga selalu mengajariku pelajaran elektronika yang sama sekali tak ku mengerti itu. Aldi menghiburku di saat aku dalam duka. Aldi membuat hari-hariku penuh kebahagiaan.
6 bulan kemudian. Valentine Time.
Aku menunggu Aldi di depan supermarket. Dia menyuruhku menunggunya di tempat itu. Sudah 10 menit, rasanya lama sekali. Kualihkan pandanganku, ku lihat Laura sendirian juga. Kudekati Laura.
“Laura, kau sedang apa di sini?” tanyaku
“Menunggu Jason, akhirnya aku menemukan Jason. Dia kekasih yang baik.” Jawabnya bahagia. “Di mana Aldi, Cyl?”
“Dia juga belum datang, Laura.” Jawabku.
“Oh, Jason! Dia sudah datang! Jason!” serunya.
“Laura, kau di sini rupanya.” Jason datang menghampiri Laura sambil membawa boneka pink yang lucu.
“Jason, ini temanku, Cecil.”
“Hai,Cecil. Aku Jason, kekasihnya Laura.” Sapa Jason padaku.
“Hai, Jason. Wah, wah, Laura bahagia banget ya.”
“Hahaha, iya dong, Cyl.” Jawab Laura.
“Eh, itu Aldi. Aldi, sini!” seruku memanggil Aldi.
Ternyata Aldi juga membawa boneka besar untukku. Aku tersipu malu.
“Sorry aku telat, Cyl. Eh, Jason? Laura pacarmu ya?” Tanya Aldi.
“Iya, kami lanjut ya.” Kata Jason.
“Oke, Jason. Congrate ya, Laura, Jason.” Kata Aldi pada mereka.
“Oke, oke, Aldi. Bye, Aldi. Bye, Cecil.” Jawab mereka serempak.
Aldi menggandeng tanganku.
“Ayo, Cecil. Kita bersenang-senang sekarang. Happy Valentine Day, Cyl.” Tatapan teduh
mata Aldi dan senyumnya menyentuh hatiku.
“Happy Valentine Day too, Aldi.” Jawabku sambil tersenyum membalas senyum Aldi.
Cinta memang membutuhkan pengorbanan & penantian yang lama..
Cerpen Karangan: Madeleiene Diana

0 komentar:

Posting Komentar