Helaan nafas tiada henti sore itu membuatku kelelahan
Mengadah dan tertunduk bukanlah sebuah keputusan
Bukan mauku begini, tapi kemauanmu
Ah! Tidak juga sepertinya
Kalau saja bisa kugenggam, tidak akan ada yang kehilangan
Maaf, lalaiku membuatmu pergi
Mengadah dan tertunduk bukanlah sebuah keputusan
Bukan mauku begini, tapi kemauanmu
Ah! Tidak juga sepertinya
Kalau saja bisa kugenggam, tidak akan ada yang kehilangan
Maaf, lalaiku membuatmu pergi
Lalai, Hesty Indah Pratiwi – 2013
Kututup mini notebook di depanku. Ada rasa takut setelah aku membuat beberapa puisi kali ini. Puisi yang tidak pernah kuketahui untuk siapa bahkan jumlah orang yang tertarik membacanya. Lagi-lagi hanya tersimpan di draft tanpa sending. Sudah lebih dari 20 puisi yang tak jelas siapa penerimanya nanti, yang aku tahu hanyalah siapa inspirasinya.
Satu tahun sudah aku belajar merangkai kata demi kata, menyimpan arti sastra dengan baik dalam kesunyian. Tentunya, menuliskannya di dalam keheningan entah itu siang atau malam. Pagi tak menjadi favoritku, karena dikala pagi hanya bait-bait pujian Tuhan yang aku suarakan.
Begitu juga dengan tempat ini, taman baca yang tak pernah tidak aku kunjungi. Aku selalu membawa jiwaku dan imajinasiku kesini. Entah untuk apa dan bersama siapa, aku menyukai tempat ini.
“Semua memang sudah berakhir.” Helaan nafas panjang memecah sunyi.
“Apapun semua yang sudah kita lewati diakhiri dengan keinginanmu yang mengusirku pergi. Tanpa kata, bahkan tak ada tatapan. Hanya ada sorot sinis sudut mata elangmu yang kulihat. Bahkan kepalan tanganmu tak kau lepas hingga aku benar-benar pergi dari hadapanmu waktu itu. Tidak ada pertahanan yang kau lakukan agar aku tetap berdiri di depanmu. Bahkan tidak ada sesal sedikitpun. Kau hanya menatap langit, biru polos tak berawan.”
“Dan pada akhirnya aku membongkah kesunyian ini lagi dengan derai air mata yang sedari aku tahan. Melebur menjadi satu antara emosi dan penyesalan. Aku harus lupa, ya.. aku harus lupa”
—
“Rif…”
Entah tangan siapa yang menepukku, aku berharap itu adalah dia yang selalu kutuliskan namanya disini.
Aku terdiam, di saat apa yang aku pikirkan benar adanya. Tidak lain tidak bukan adalah dia yang baru saja kujadikan latar puisiku.
“Key? Kamu kesini?” suara gemetarku tak dapat disembunyikan.
“Iya, Nita bilang kamu ke tempat biasa. Tempat mana lagi yang menjadi favoritmu kalau bukan tempat ini.”
Namanya Keyza. Dia adalah temanku sejak SMP. Dulu, Keyza adalah satu-satunya siswa yang pernah sekolah di luar negeri. Ayahnya bekerja di sebuah perusahaan dan ibunya seorang dokter anak. 5 tahun Keyza tinggal di luar negeri, ayahnya selesai kontrak kerja disana sehingga mengharuskan keluarga mereka untuk kembali ke Indonesia. Tahun 2006 Keyza dan keluarganya resmi menjadi WNI lagi. Aku adalah orang pertama yang berkenalan dengan Keyza saat ia menginjakkan kaki di sekolah yang sama denganku. Tidak ada senyum yang paling indah selain senyum Keyza. Matanya yang tidak terlalu bulat membuatku geram, ditambah lagi postur tubuhnya yang tinggi semampai membuatku sering kali minder jika aku di sampingnya. Kami berteman dekat, sering belajar bersama dan pergi ke kantin bersama. Keyza tidak pernah lupa dengan cerita dinosaurus yang tidak lucu yang pernah aku ceritakan. Ia menertawakan leluconku yang tidak pernah benar-benar lucu. Itu menyebalkan, tapi Keyza tetap mengusap-usap kepalaku hingga aku tidak pundung lagi.
“Kamu kapan sampai ke kota ini lagi?” cepat aku menghapus lamunanku dengan obrolan yang sama sekali tidak penting ini.
“Tadi pagi. Tadi pagi aku ke rumahmu, tapi kata Nita kamu pergi. Jadi kamu dari pagi disini?”
“He eh..” aku mengangguk. Anggukan kepalaku sama seperti anggukanku waktu aku menerimamu, Key.
“Bikin apa sih? Masih suka nulis?”
Key mencoba meraih notebook milikku. Dengan cepat aku klik shut down dan aku peluk erat.
“Mau apa Key! Kamu kebiasaan banget dari dulu ya hobinya ngerebut apa yang aku pegang.” Aku menatap sinis Key. Ia bergumul dalam tawa.
Aku merindukanmu, Key. Hanya saja bukan saatnya aku mengatakan kerinduanku ini. Ah, kau datang lagi di saat selamat tinggal telah kurajut dalam hatiku. Harusnya kau tidak datang lagi, Key. Kau yang memintaku pergi saat itu.
—
Waktu enggan berputar ketika aku meraih album foto milik Key yang berada di ruang tamu, begitu juga ruang tamu ini. Dimana hanya pundak Key yang membuatku tertidur lelap sore sebelum Key memintaku pergi. Novel yang baru saja aku beli waktu itu dan laptop Key menjadi saksi bahwa hubungan kami baik-baik saja saat itu.
“Rif, kuliah kamu gimana?”
“Begitulah, kampus, tugas, quiz, organisasi, pulang, nulis, nulis, nulis.”
“Tanpa makan?” Key tertawa.
“Heh bodoh. Kau memang bodoh atau bagaimana Key?” Aku melemparkan bantal ke mukanya. Key semakin tertawa.
“Key…”
“Kenapa, Rif?”
“Kamu udah punya pacar lagi?”
Key tersenyum. Tidak menjawab. Matanya mengarah pada pintu, dan ia keluar.
“Key, seandainya kamu tahu. Aku tidak pernah bertahan dalam hubungan bersama laki-laki lain selain kamu. Bahkan aku selalu meminta mereka untuk sama sepertimu, namun langkahku salah. Key, tidak adakah sedikitpun kau teringat cerita dinosaurus dan seni tari waktu itu? Aku berterima kasih kepada mereka, karena merekalah kita dipertemukan.”
Aku menyusul Key keluar. Aku biarkan kalimat-kalimat yang tadi kuucap. Aku biarkan hilang begitu saja tanpa Key dengar, tanpa Key jawab.
“Rif, sini deh. Lihat nih!” Key menunjukan surat padaku.
Surat undangan untuk hadir dalam konferensi mahasiswa di Jerman
“Kamu…”
“Iya. Aku tiga bulan lagi berangkat ke Jerman, Rif. Aku terpilih jadi perwakilan kampusku untuk menghadiri konferensi mahasiswa disana. Kasih aku selamat dong!” Key menyentuh pundakku dan mengguncang badanku.
sebenarnya bukan hanya badanku yang kau guncang, Key. tapi hatiku dan pikiranku.
“Selamat, Key! Kamu selalu beruntung dalam hal ini. Ya wajar aja sih ya kan kamu udah sering ke luar negeri.” Aku melepaskan tangan Key dari pundakku.
Sesak, aku butuh udara segar.
“Key, aku pulang ya.”
“Cepet banget, Rif? Idih payah lo!”
“Aku… aku ada janji. Bye!” aku mengambil tasku dan bergegas pulang.
Key, tidak ada lagi pertahanan yang kau lakukan. Apa perasaanmu sudah tidak ada lagi?
—
Langit begitu gelap. Angin lembab yang berhembus kembali menggangu pikiranku. Pikiranku kembali tertuju pada Key. Key yang tak pernah kembali, bahkan tak pernah peduli bagaimana perasaanku.
Terakhir aku bertemu saat ia menunjukkan surat undangan konferensi. Tidak ada lagi pertemuan setelahnya.
Aku masih berusaha melupakan Key, bagaimanapun caranya.
“Akan ada pertemuan ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Aku tahu alasanmu mengapa kamu tidak menjawab pertanyaanku waktu itu. Aku mengetahui semuanya, Key. Kamu pun mencintainya. Cintamu pada Lesha begitu besar, tak sama seperti cintamu padaku dua tahun lalu. Tapi, Key. Bukan hanya itu pertanyaanku, sebelum kau pergi sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan, mengapa kau memintaku pergi waktu itu? Apa sebabnya, Key?”
Aku menatap foto Key. Bersamaku.
“Key. Lesha tidak pernah mengerti bagaimana rasanya jadi Rifi yang setia dalam waktu dan rela menelan caci-maki darimu. Entah berapa tahun yang lalu, tangisku pecah dahsyat di depanmu, di depan teman-temanku.”
Rintik hujan membasahi kaca jendela kamarku.
“Indah, Key. Sangat indah. Mengikuti kompetisi berbarengan denganmu. Dan untuk pertama kalinya kau antar aku pulang. Aku terharu, saat kamu menyemangatiku di saat aku gagal. Tidak sepertimu.”
Aku meraih handphoneku. Membuka pesan.
“Rif, aku minta maaf. Kamu yang semangat ya, btw buku kamu bagus. Meskipun itu tugas, kamu berhasil melangkah. Semangat, calon penulis.” Pesan dari Key.
“Sial. Kamu datang di saat aku benar-benar ingin lupa, Key.”
Malam masih menyisakan angin yang dingin dan gerimis. Aku belum beranjak. Terjebak dalam waktu dan keadaan yang tak pernah mendukungku. Ada ketidaknyamanan untuk perpisahan kali ini.
“Key, aku tidak tahu apa arti dari semua ini. Kebodohan dan kesetiaan bergabung dalam satu kehidupan. Entah aku yang bodoh, aku yang setia, atau kau yang tidak pernah merasakan hal yang sama. Key, malam ini aku mencoba mengulang dari awal. Kalau kamu benar-benar ingin aku lupa, jangan datang lagi. Atau, kamu boleh kembali tanpa pergi lagi.”
Kusulam rinduku setelah satu tahun tak bersamamu. Kini, memasuki rindu yang ke ribuan kali yang tak pernah terhitung. Rinduku padamu tak pernah sampai, Key. Malam semakin larut, gerimis tak kunjung reda. Aku berbaring dalam kenangan.
“Key, aku masih disini.”
Sepi. Gelap. Dingin.
Ada desir rindu dan terumbu kenangan tak terjawab. Di hatiku, di dalam jiwaku.
Cerpen Karangan: Hesty Indah Pratiwi

0 komentar:
Posting Komentar