Cinta Yang Tak Terbalaskan

Sabtu, 10 Agustus 2013


Ini kisahku lebih tepatnya kisah cintaku yang berakhir buruk, aku bahkan tidak tau apakah setelah ini aku masih bisa merasakan cinta, bagiku cinta itu indah tapi juga menyakitkan. Kisah ini berawal di pagi yang cerah dan ceria.
Hah… Aku bangun dari tidur panjangku, segera aku mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Oh iya namaku galuh ayu, biasa di panggil ayu, aku duduk di bangku kelas 2 smp. Hari ini adalah hari yang cerah, secerah dengan hatiku, aku berangkat ke sekolah kesayanganku.
Tak perlu waktu lama aku sudah sampai di sekolah tepatnya di kelas, hal yang paling aku tunggu saat masuk di kelas adalah kedatangan kedua sahabatku dan seseorang yang aku suka. Aku duduk di bangku sambil melamun tentang seseorang, sampai akhirnya lamunanku dipecahkan oleh sapaan seorang sahabatku yang bernama tania. “hy ayu selamat pagi” sapa tania. “hy… Pagi juga” jawabku. “kamu tuh pagi pagi udah ngelamun, ngelamunin dia ya… Ayo ngaku” tanya tania. “ngak kok, aku cuma lagi mikirin sesuatu” ucap bohongku. “sudahlah aku bisa melihat matamu, jika kamu menatapnya, kamu memberikan pandangan yang berbeda” ucap tania yang memojokkanku. “benarkah, ya sudahlah ayo keluar” ucapku untuk mengalihkan pembicaraan. “ya baiklah ayo” jawab tania.
Aku dan tania pun keluar dari kelas, di luar kelas aku dan tania melihat yolan, dia juga salah satu sahabat baikku. Setelah kami bertiga berkumpul, kami kembali berjalan jalan.
Tak lama kemudian “kriing… Kriing…” bel sekolah berbunyi, aku, yolan, tania berlari untuk kembali ke kelas. Saat aku berlari aku menabrak dika, alias cowok yang aku suka, dia membantuku berdiri, aku pun berjalan kembali ke kelas bersama dika. Ketika di kelas aku masuk bersama dika, ada seseorang temanku bernama ratih memandangku dengan tatapan mata yang marah, aku yang melihat sorot matanya akhirnya sadar bahwa ternyata ratih juga menyukai dika.
Aku menuju ke bangkuku dengan rasa yang tidak enak, sementara itu ke dua sahabatku meminta maaf kepadaku karena telah meninggalkanku saat berlari tadi. “maaf ya tadi aku ninggalin kmu” ucap tania. “iya maaf ya” susul yolan. “ah tidak apa apa kok” jawabku.
Tak lama kemudian guru fisika masuk ke kelas menandakan bahwa pelajaran akan segera dimulai.
Aku, tania dan yolan menjalani setiap pelajaran dengan serius, tapi tetap saja hati dan fikiranku masih memikirkan tatapan mata ratih yang terlihat marah tadi, aku selalu bertanya dalam hati “apakah ratih juga menyukai dika? Dan apakah dika juga menyukai ratih?” dari tadi hanya pertanyaan itu yang ada di pikiranku dan di hatiku. Akhirnya aku memutuskan untuk memberanikan diriku bertanya pada ratih nanti di saat jam istirahat.
Setelah lama mengikuti pelajaran akhirnya bel istirahat pun berbunyi “kring…” semua siswa keluar dari kelas, kecuali aku dan ratih. Bunyi bel tersebut membuatku melangkah keluar dari bangku dan berjalan menuju bangku ratih. Setelah aku berada di bangku ratih aku ditatap oleh ratih dengan tatapan kebenciaan dan kemarahan, akhirnya aku bertanya kepada ratih “ratih jangan jangan kau menyukai dika ya?” tanyaku dengan serius. “kalau iya memang kenapa, apa cuma kau yang menyukainya, apa aku tidak boleh menyukainya” jawab ratih dengan emosi. “tidak bukan itu maksudku, maaf jika aku menyinggung perasaanmu” ucapku dengan kecewa dan sedih. “asal kau tau ya… Dika itu lebih memilihku dari pada dirimu, sebaiknya kau lupakan dika” ucap ratih sambil menunjukku. “iya baiklah, dari pada harus bermusuhan denganmu lebih baik aku lupakan cintaku” aku pun berlari sambil menangis.
Aku berlari menuju bangku taman di belakang sekolahku, disana aku menangis sendiri, hanya semilir angin yang menemaniku. Karena terlalu sedih aku tidak mengikuti kelas terakhir, aku memutuskan untuk terus berada di taman sampai pulang sekolah, ya paling tidak aku menemukan ketenangan.
Tak lama kemudian bel pulang sekolah berbunyi “diing doong” mendengar bel itu aku berjalan menuju kelas untuk mengambil tas ku dan setelah itu pulang. Di jalan aku bertemu ratih, dan dia sedang berjalan bergandengan dengan dika. Rasanya hatiku hancur, namun aku tidak bisa berbuat apa apa. Aku yakin perasaan ini akan hilang seiring dengan berjalannya waktu. Ya… Paling tidak aku masih mempunyai sahabat sahabat terbaikku.
Cerpen Karangan: Galuh Ayu

0 komentar:

Posting Komentar