Sahabat Kekasihku

Sabtu, 10 Agustus 2013


Dani. Sebuah nama yang akhir akhir membuat hari hariku indah. Sebuah nama yang membuatku selalu berbunga bunga hanya dengan membaca smsnya. Namun nama itu juga yang membuatku selalu merasa berdosa. Ya! Berdosa karena telah membohongi Rino pacarku, berdosa karena telah sembunyi sembunyi menjalik kasih dengan Dani.
Pertemuan itu 2 minggu yang lalu di kafe, yang membuat hidupku sekarang menjadi penuh dengan liku-liku.
“hai Di?” sapa Dani
“eh Dan, iya.” sapaku yang sedikit terpana melihat wajah seorang Dani.
“woi bro, sama siapa nih?” tiba tiba sapaan Rino membuyarkan anganku tentang Dani.
“Sendiri bro, memang situ kemana mana sama Diandra nih” canda Dani. Dan saat itu aku hanya tersenyum aja. Di kafe ini ada acara perkumpulan komunitas Rino dan sahabat sahabatnya, yang kesemuanya adalah para pemain bola.
“sayang aku kesana dulu mau ada ngomong penting sama Adi” ucap Rino
“oh iya sayang nggak papa kok” jawabku
Dan sekarang aku duduk dan 1 meja dengan Dani, entah aku juga tidak tahu Dani sengaja untuk menemaniku atau kebetulan saja dia sedang tidak ingin ber haha hihi dengan teman temannya yag lain.
“Tumben Di, kamu diam saja?” tanya Dani
“Lagi nggak enak badan aja kok” jawabku berbohong, karena sebenarnya entah kenapa hatiku berdebar duduk berdekatan hanya dengan Dani saja. Perasaan apa ini?
“o iya Di, minta nomor handphonenya dong” pinta Dani sambil menyerahkan handphone kepadaku, agar aku menuliskan nomornya di handphonenya. Dan entah kenapa tanpa banyak berkata lagi aku ambil handphonenya dan dengan cepat aku tulis nomorku di handphonenya.
Seperti yang biasa terjadi kalau bertukar nomor handphone pastilah bertujuan untuk berkomunikasi, dan itu juga yang terjadi padaku dan Dani. Entah dari mana dan siapa yang memulai aku dan Dani sangat akrab dan bahkan terjalin ikatan yang sangat dekat selama 2 Minggu ini dan itu semua tanpa diketahui oleh Rino. Malam itu tepat 2 minggu kedekatanku dengan Dani, malam itu awal semua kebimbanganku saat ini, malam itu Dani menelephoneku dan mengatakan cinta padaku.
“Di, aku mau jujur sama kamu Di”
“kenapa Dan?”
“Tapi jangan marah ya Di”
“Ada apa sih?”
“Di, entah kenapa aku punya rasa yang beda sama kamu Di. Aku merasa nyaman didekatmu Di, dan aku menginginkan kita lebih dari seorang teman ataupun sahabat Di. Di… aku mencintaimu Di”
Dan aku hanya diam sesaat, lumayan lama aku terdiam sebelum menjawabnya.
Malam itu, yang membuatku menjadi seperti sekarang ini, membuat ku selalu dan selalu merasa bersalah, dan berdosa. Dosa termanis mungkin seperti lagunya Tere. Akh…! Entah apa itu namanya, yang jelas sejak malam itu aku menyandang status berpacaran dengan Dani dan Rino. Damn! Cewek macam apa aku ini. Memacari dua sahabat. Walalupun notabene Dani adalah selingkuhanku, tapi yang jadi masalah disini Dani adalah sahabat Rino kekasihku. Aku bisa saja bangga dengan predikat yang mungkin akan kusandang sebagai playgirl, walaupun selama ini itu mungkin sudah kusandang, tapi dulu saat aku bersama Rino aku sudah janji untuk setia bersamanya dan ternyata kau bisa bertahan dengan Rino sampai usia 3 Tahun. Dan saat ini Dani menghancurkan janji itu. Tapi, aku merasa nyaman dan bahkan lebih merasa nyaman bersama Dani daripada bersama Rino. Seperti saat ini.
“Sayang aku nggak mau kehilanganmu” ucap Dani
“iya sayang, tapi aku nggak mungkin menjadi milikmu sayang”
“kenapa nggak mungkin? Kamu bisa putuskan Rino sayang”
“Aku nggak bisa yang”
“Kenapa? Pokoknya aku mau kamu hanya milikku, kalau bisa aku akan melamarmu sekarang. Kamu tau sendiri kan mamiku sudah sayang sama kamu Di” Aku hanya terdiam, kenyataannya maminya Dani sangat sayang padaku dan aku merasa berdosa sekali sama beliau, karena aku juga telah membohonginya.
“tetap tidak bisa Dan”
Keadaan yang tadinya romantis berubah menjadi amarah, Dani marah dia mau aku putusi Rino dan hanya untuknya. Tiba-tiba Rino menelephoneku.
“iya halo” jawabku datar
“beib, lagi dimana?”
“eh, lagi di rumah sinta nih lagi ngerjain tugas” bohongku
“ya udah, udah makan siang kan sayang?”
“Udah kok”
“Kamu kenapa sih sayang kok kaya takut takut gitu nerima telepon dari aku nggak kaya biasanya”
Sembari aku berjalan meninggalkan ruang tamu rumah Dani menuju dapur yang tidak jauh dari situ.
“nggak papa sayang, nggak enak tadi lagi ada bapak ibunya Sinta”
“o ya sudah sayang aku ngantor lagi ya”
“ok sayang”
Lalu dengan rasa bersalah dan di tambah beban amarah Dani aku berjalan kembali ke tempat duduk yang semula. Dan disitu wajah Dani sudah sangat tidak mengenakan.
“ayo aku antar pulang”
“nggak sebentar”
“ayo sekarang!” ujar Dani sedikit membentak
“Aku nggak mau kamu marah Dan” tiba tiba air mataku menetes, entah kenapa aku nggak mau kehilangan Dani, ada terbesit rasa sakit melihat Dani marah sama aku.
“Kalau kamu nggak mau aku marah, kamu nurut aku Di. Kamu putusi Rino dan kita bersama selamanya”
“nggak bisa Dan.”
“ok kalau kamu tetap nggak bisa. Udah lah ayo aku antar kamu pulang”
“tapi Dan…” belum sempat aku bicara Dani sudah ambil kunci mobil dan pergi meninggalkanku yang menangis. Dan akupun mau tidak mau mengikuti Dani keluar rumah. Dan belum sempat aku hapus air mataku bertemu maminya Dani yang baru saja pulang dari belanja dan secara refleks aku memeluk maminya Dani sambil menangis.
“Tante Diandra pulang dulu ya”
“iya sayang, ada apa to ini?”
“nggak ada apa-apa kok tante”
“Diandra sabar ya, Dani memang seperti itu”
“Iya tante, tante maafin Diandra ya tante”
Lalu tanpa banyak kata lagi aku masuk mobil yang sedari tadi mesinnya sudah dihidupkan sama Dani. Tanpa pamit lagi dani menjalankan mobilnya. Dijalanpun Dani sudah bak pembalap yang tak tau arah, dan aku hanya bisa diam. Aku hanya bisa berdoa untuk diberi keselamatan oleh Tuhan.
“makasih dan”
Masih dengan kediamannya Dani tetap diam seribu bahasa. Setelah aku turun dari mobil belum sempat aku membalikkan badan, Dani sudah tancap gas, melukiskan kemarahannya. Belum ada 5 menit aku masuk rumah, Rino sudah dibelakangku.
“woiii”
“eh oh kamu Rin, sayang” ucapku gugup kenap Rino sudah ada di belakangku, dari kapan dia datang, apakah dia melihatku bersama Dani tadi?
“kamu kenapa sih sayang gugup gitu?”
“enggak kok, kaget aja kok tiba tiba kamu ada dibelakangku. Kok sudah pulang?”
“iya nih sayang aku baru aja kok cuma sekarang pakai mobilnya mama, jadi terdengar halus, kamu sampai nggak denger suara mobilnya. Aku pulang awal sayang kan hari ini kita ada rencana cari cincin kan?”
“o iya aku lupa sayang”
“di anter siapa sayang pulangnya?”
“eh, di anter sinta yang” jawabku masih gugup
Cincin tunangan. Yah itulah kenapa aku nggak bisa memutuskan hubunganku dengan Rino, dan aku juga merasa hanya Rinolah yang sanggup sabar menghadapi aku. Rino cukup setia sebagai seorang laki-laki. Dan sampai detik ini aku belum mampu menjadi yang terbaik buat Rino, dan menjadi setia buatnya. Aku merasa nggak mau kehilangan Dani, namun aku harus bisa melepaskan Dani apapun itu resikonya.
“Bentar ya sayang aku ganti baju dulu, abis itu kita hunting cincinnya”
“ok beib”
Sambil menungguku, Rino main main dengan I-Pad nya, mungkin sembari mengerjakan pekerjaannya, itulah yang biasa dia lakukan. Namun tiba-tiba aku dengar Rino menelphone seseorang dengan marah marah. Berdebar juga jantugku, aku takut, takut sekali. Spertinya yang ku dengar Rino marah besar. Dan ternyata Rino sedang marah marah sama Dani. Damn!!!
Rino mengetahui perselingkuhanku dan Dani. Setelah Rino menutup telephonenya kuberanikan diri bersikap biasa saja.
“yuk sayang kita berangkat”
“nggak jadi. Aku mau ngomong sama kau Diandra Sukma Wijaya”
Deg! Tiba tiba aku takut sekali.
“aku butuh penjelasan mengenai ini semua” ucap Rino sambil meletakkan I-Padnya yang disitu terdapat percakapn chattingnya bersama dengan temannya yang melaporkan hubunganku dengan Dani dan juga terdapat foto foto kami. Aku diam tanpa kata. Oh Tuhan cobaan apa lagi ini? Baru saja tadi pagi Dani marah padaku dan sekarang Rino juga. Ya Alloh Ya Tuhanku seandainya aku harus kehilangan kedua dua nya aku siap Tuhan.
“jawab Di!!!” bentak Rino
“maafkan aku Rin” jawabku sambil menangis
Rino berusaha melonggarkan ikatan dasinya, dan berkali kali mengusap wajahnya.
“Diandra” kali ini terdengar lebih halus
“Diandra sukma wijaya, aku sayang banget sama kamu, kenapa kamu melakukan ini sayang?”
“aku minta maaf Rino, kalaupun kamu mau memutuskan hubungan kita aku juga nggak papa Rin, dan aku juga sudah memutuskan hubungan dengan Dani”
“Di, aku minta penjelasan. Kenapa kamu lakukan ini?”
“aku nggak tahu Rin”
“Di, hubungan kita ini sudah bukan hubungan anak SMA lagi sayang. Sekali lagi aku mohon padamu Di, berubahlah buatku”
“maksudmu Rin?”
“aku nggak akan memutuskan hubungan kita Di, aku juga salah Di aku nggak pernah ada waktu buat kamu aku terlalu sibuk mungkin dengan pekerjaanku Di”
“enggak Rin, enggak. Aku yang minta maaf Rin, aku yang nggak bisa menjaga kepercayaanmu”
“Ok aku sudah maafin kamu sayang. Jangan diulangi lagi ya, tapi soal Dani aku masih belum bisa memaafkannya”
Aku diam tanpa bisa berkata apa-apa.
Oh Tuhan terimakasih kau kirimkan Rino untukku, jangan kau biarkan aku menyakitinya lagi Tuhan.
Cerpen Karangan: Desi

0 komentar:

Posting Komentar